Lagi-lagi Badan Drop Saat Perjalanan Mudik

Apa yang menjadi spesial di mudik tahun ini? Saya juga masih mencari itu. Tapi yang pasti satu hal yang tidak pernah berubah dari pengalaman mudik dua tahun terakhir adalah, kondisi fisik saya. Ketahanan fisik saat mudik memang diperlukan, karena kita harus menempuh perjalanan jauh yang memakan waktu lama. Tentunya kondisi ini akan membuat badan kita lelah, letih, lesu, dan lunglai. Maklum, karena perjalanan mudik dilakukan saat bulan puasa.

Seperti biasa, mudik tahun ini saya tetap berpuasa. Saat sahur, saya melakukan persiapan fisik dan makan makanan yang cukup untuk bekal saat puasa nanti. Menghindari makanan yang pedas atau berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan. Satu hal yang paling utama adalah minum air yang cukup, karena saat perjalanan jauh pasti banyak cairan yang akan terbuang.

Perjalanan kami dimulai pukul 5.30 waktu Indonesia bagian Kudus, Jawa Tengah, dan sekitarnya. Alhamdulillah, perjalanan kami cukup lancar. Berbekal peta dari google kami mencoba melewati rute yang baru. Mengenai hal ini akan saya ceritakan di postingan yang berbeda. Kami melewati rute yang panjang ini dengan banyak ngobrol dan bercerita. Tentu lebih banyak istri saya yang bercerita tentang apa saja. Bahkan tentang hal-hal yang gak jelas. Yang paling penting sih, saya terhindar dari rasa kantuk.

Singkat cerita, setelah tiga setengah jam perjalanan, kami tiba di rest area 575 di Ngawi. Sayang saya tidak mengambil banyak foto atau video saat tiba di rest area ini. Entah kenapa malas rasanya untuk ambil foto atau video. Cuaca pagi itu terasa panas, entah berapa derajat suhunya. Sampai di rest area ini saya banyak melakukan peregangan, maklum lama tidak berkendara jauh badan terasa pegal-pega. Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu saya yaitu perut mulai terasa lapar.

Saya perhatikan suasana di sekitar tempat parkir banyak orang yang makan dengan santainya. Suasana yang cukup menggoda saya untuk ikutan makan. Beberapa kali istri saya menggoda saya dan melemparkan celetukan “kita kan musafir”. Saya mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan istri. Namun, kami masih bertekad untuk tetap berpuasa. Kami merasa akan hambar rasanya kalau bisa mudik tapi harus meninggalkan puasa. Semoga saja Allah memberikan kemudahan.

Saya hanya membalas dengan senyuman. Entah kenapa, saat berhenti di rest area ini tenaga saya terasa berkurang. Namun, saya belum merasakan tanda-tanda masuk angin atau yang semacamnya. Sampai akhirnya kita ke toilet, dan melakukan beberapa aktivitas di masjid. Tentu saja saya ingin tidur sejenak, karena saya rasa mata ini mulai mengantuk. Namun, belum sempat mata ini terpejam, saya dikejutkan dengan langkah istri saya. Akhirnya, saya tidak jadi mengantuk dan mata ini tiba-tiba terbelalak.

Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, saat itu kurang lebih pukul 9.45 kami keluar dari rest area. Sesaat sebelum keluar dari rest area, saya membalas beberapa pesan WhatsApp. Sayangnya, kami tidak bertemu dengan Bu Salmah (rekan kerja saya) sekeluarga saat beristirahat tadi. Nampaknya kami hanya berpapasan, informasi dari istri saya tadi Bu Salmah dan Pak Udin melihat mobil kami melintas keluar rest area. Tahun ini memang kami tidak ada janjian untuk mudik bareng.

Setelah keluar di pintu tol Nganjuk, kami melanjutkan perjalanan ke Tulungagung. Jarak Nganjuk ke Ariyojeding lokasi rumah mertua saya sekitar 77 km. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di rumah mertua saya. Saya hanya berharap perjalanan lancar, dan kami bisa tetap berpuasa.

Sampai di daerah Ngadiluwih, perbatasan antara Kediri dan Tulungagung saya merasa mengantuk. Akhirnya kami putuskan untuk menepi di pinggir jalan, tepatnya di bawah pohon yang rindang. Suasana siang itu cukup terik, saya lihat jam tangan saya menunjukkan pukul 12.25. Pantas saja saya merasakan haus dan lemas seluruh badan. Setelah sekitar lima belas menit tidur dalam mobil. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kondisi badan saya sudah sangat lemas, bahkan saya sudah gak ada tenaga untuk sekedar tertawa atau senyum saat istri bercerita hal-hal yang lucu.

Akhirnya cerita tahun lalu terulang kembali. Yups, batas kekuatan tubuh saya tampaknya sudah maksimal. Alhamdulillah, sesampainya di rumah mertua saya merasakan migrain. Alamat bakalan berat dan lama nih sampai menunggu waktu maghrib tiba. Setelah shalat dan beberes saya langsung tidur untuk menghilangkan rasa pusing dan mual-mual. Saat berbuka puasa soto daging legend yang dibelikan mertua saya hambar rasanya. Ya wajar, karena badan saya lemas dan terasa seperti orang yang baru sembuh dari sakit. Alhamdulillah, dengan istirahat yang cukup saat tarawih pusing dan mual saya sudah hilang.

Intinya dalam hal apapun yang perlu kita lakukan adalah sabar dan tawakal. Meski berat, kalau kita berlatih dan mencoba pasti ada jalan.

— Nuskhan Abid

Syukurlah kami sudah sampai di rumah mertua dengan selamat. Perjalanan mudik memang dibutuhkan fisik, mental, dan tekad yang kuat. Ada banyak halangan dan ujian saat di perjalanan. Namun, ketika kita bersabar, tetap berusaha melakukan yang terbaik, dan tawakal, Insya Allah akan manis hasilnya. Pelajaran ini semoga bisa kita terapkan pada kegiatan-kegiatan yang lain juga setelah lebaran. Intinya dalam hal apapun yang perlu kita lakukan adalah sabar dan tawakal. Meski berat, kalau kita berlatih dan mencoba pasti ada jalan.

Ariyojeding, Tulungagung, 7 April 2024.

0 comments
2 likes
Prev post: (Tidak) Tulus?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.